Tinggalkan komentar

ayo spa yang mau balapan sam gwa..??motor 90an garapn dalam negri abis terkena lahar dingin mrapi hhe =D

Tinggalkan komentar

“berharap kau kan kembali”

dan bila pagi esok tlah tiba
q hrap smua tlah jau berbda
tkan lgi da kesedihan
dlm jiwa ini

dan bila esok kau tlah kembli
tkan q siakan km lagi
q kan sllu menyangangimu, setulus cinta q ni

q ttap berdoa pd sank kuasa
berharap drimu kn kembli
q berjanji kan slu mencintaimu setulus jiwa q ni..

Tinggalkan komentar

lirik lagu “cinta semu”

dulu saat kau dtang dlm khdupan q
1000 janji kau ucapkan pda q
dulu saat kau mengisi relung jiwa q
1000 kata cinta kau ucapkan pada q

dan kini..kau pergi tinggalkan diriku
tanpa 1 kata pun yg kau ucapkan
dengarlah..wahai sang mantan
q dsini ttap tersenyum tanpamu

q tak butuh cintamu yg semu
yg hanya kau beri saat kau btuhkn q
q tak btuh perhatian palsumu
yg hanya kau beri saat kau inginkan q

Tinggalkan komentar

LP kebutuahan cairan & elektrolit

A. DEFINISI

Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespons terhadap stressor fisiologis dan lingkungan. Cairan dan elektrolit saling berhubungan, ketidakseimbangan yang berdiri sendiri jarang trjadi dalam bentuk berlebihan atau kekurangan. Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuhtetap sehat.

Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan

elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya; jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya.

B. FISIOLOGI CAIRAN DAN ELEKTROLIT

Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah dari cairan interstitial masuk kedalam sel. Pembuluh darah kapiler dan membrane sel yang merupakan membran semipermiabel mampu memfilter tidak semua substansi dan komponen dalam cairan tubuh ikut berpindah. Metode perpindahan dari cairan dan elektrolit tubuh dengan beberapa cara yaitu:

1. Difusi

Merupakan proses di mana partikel yang terdapat di dalam cairan bergerak dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sampai terjadi keseimbangan. Cairan dan elektrolit di difusikan menembus membrane sel. Klecepatan difusi di pengaruhi oleh ukuran molekul, konsentarsi larutan dan temperature.

2. Osmosis

Merupakan bergeraknya pelarut bersih seperti air, melaui membran semipermiabel dan larutan yang berkosentrasi lebih rendah ke kosentrsi yang lebih tinggi yang sifat nya menarik.

3. Transport aktif

Partikel bergerak dari konsentrasi rendah ke lebih tinggi karena adanya daya aktif dari tubuh seperti pompa jantung.

C. KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

No

Umur / BB (Kg)

Kebutuhan cairan (mL/24 jam)

1

3 hari, 30 kg

250-300

2

1 tahun, 9,5 kg

1150-1300

3

2 tahun, 11,8 kg

1350-1500

4

6 tahun, 20,0 kg

1800-2000

5

10 tahun, 28,7 kg

2000-2500

6

14 tahun, 45,0 kg

2200-2700

7

18 tahu, 54,0 kg

2200-2700

Volume cairan tubuh

Total jumlah volume cairan tubuh (total body water-TBW) kira-kira 60% dari berat badan pria dan 50% dari berat badan wanita. Jumlah volume ini tergantung pada kandungan lemak badan dan usia. Lemak jaringan sangat sedikit menyimpan cairan di mana lemak pada wanita lebih banyak dari pria sehingga jumlah volume cairan lebih rendah dari pria. Usia juga berpengaruh terhadap TBW di mana makin tua usia makin sedikit kandungan airnya. Contoh: bayi baru lahir TBW nya 70-80% dari BB, usia 1 tahun 60% dari BB, usia puberitas sampai dengan 39 tahun untuk pria 60% dari BB dan wanita 52% dari BB, usia 40-60 tahun untuk pria 55% dari BB dan wanita 47% dari BB, sedangkan pada usia di atas 60 tahun untuk pria 52% dari BB dan wanita 46% dari BB.

D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

1. Umur

Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan di karenakan gangguan fungsi ginjal ataw jantung.

2. Iklim

Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui keringat. Sedangkan seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L per hari.

3. Diet

Diet seseorag berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit. Ketika intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema.

4. Stress

Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan glykogen otot. Mrekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah.

5. Kondisi sakit

Kondisi sakit sangat b3erpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan elektrolit misalnya:

– Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL.

– Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.

– Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami ganguan pemenuhan intake cairan karena kehilangan kemapuan untuk memenuhinya secara mandiri.

6. Tindakan medis

Banayak tindakan medis akan berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh seperti: suction, NGT dan lain-lain.

7. Pengobatan

Pengobatan seperti pemberian dueretik, laksative dapat berpengaruh pada kondisi cairan dan elektrolit tubuh.

8. Pembedahan

pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggimengalami gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh karena kehilangan darah selama pembedahan.

E. MASALAH-MASALAH GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

1. Hipovolemik

Adalah suatu kondisi akibat kekurangan volume cairan ekstra seluler (CES) dan dapat terjadi karena kehilangan melalui kulit, ginjal, gastrointestinal, pendarahan sehingga menimbulkan syok hipovolemik. Mekanisme nya adalah peningkatan rangsangan saraf simpatis (peningkatan frekuensi jantung, kontraksi jantung dan tekanan vaskuler), rasa haus, pelepasan hormone ADH dan adosteron. Gejala: pusing, lemah, letih, anoreksia, mual muntah, rasa haus, gangguan mental, konstipasi dan oliguri, penurunan TD, HR meningkat, suhu meningkat, turgor kulit menurun, lidah terasa kering dan kasar, mukosa mulut kering. Tanda-tanda penurunan berat badan dengan akut, mata cekung, pengosongan vena jugularis. Pada bayi dan anak adanya penurunan jumlah air mata.

2. Hipervolemi

Adalah penambahan/kelebihan volume CES dapat terjadi pada saat:

a) Stimulasi kronis ginjal untuk menahan natrium dan air.

b) Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium dan air.

c) Kelebihan pemberian cairan.

d) Perpindahan cairan interstisial ke plasma.

Gejala: sesak napas, peningkatan dan penurunan TD, nadi kuat, asites, adema, adanya ronchi, kulit lembab, distensi vena leher, dan irama gallop.

Tinggalkan komentar

LAPORAN PENDAHULUAN PEMBERIAN OBAT

1.pngertian
Memberikan obat adalah suatu tindakan untuk membantu proses penyembuhan dengan cara memberikan obat-obatan melalui mulut(oral) dan dengan injeksi sesuai dengan program pengobatan dari dokter..
2,jenis pemberian obat
a. oral
Memberikan obat oral adalah suatu tindakan untuk membantu proses penyembuhan dengan cara memberikan obat-obatan melalui mulut sesuai dengan program pengobatan dari dokte
b. PEMBERIAN OBAT SECARA PARENTERAL

Pemberian obat secara parenteral merupakan pemberian obat melalui injeksi atau infuse. Sediaan parenteral merupakan sediaan steril. Sediaan ini diberikan melalui beberapa rute pemberian, yaitu Intra Vena (IV), Intra Spinal (IS), Intra Muskular (IM), Subcutaneus (SC), dan Intra Cutaneus (IC). Obat yang diberikan secara parenteral akan di absorbs lebih banyak dan bereaksi lebih cepat dibandingkan dengan obat yang diberikan secara topical atau oral. Perlu juga diketahui bahwa pemberian obat parenteral dapat menyebabkan resiko infeksi.
Resiko infeksi dapat terjadi bila perawat tidak memperhatikan dan melakukan tekhnik aseptic dan antiseptic pada saat pemberian obat. Karena pada pemberian obat parenteral, obat diinjeksikan melalui kulit menembus system pertahanan kulit. Komplikasi yang seringv terjadi adalah bila pH osmolalitas dan kepekatan cairan obat yang diinjeksikan tidak sesuai dengan tempat penusukan sehingga dapat mengakibatkan kerusakan jaringan sekitar tempat injeksi.
Pada umumnya pemberian obat secara parenteral di bagi menjadi 4, yaitu :
A. Pemberian Obat Via Jaringan Intra Kutan
B. Pemberian Obat Via Jaringan Subkutan
C. Pemberian Obat Via Intra Vena : Intra Vena Langsung dan tak langsung
D. Pemberian Obat Via Intramuskular

A. Pemberian Obat Via Jaringan Intra Kutan
1. Pengertian Intra Kutan
Merupakan cara memberikan atau memasukkan obat ke dalam jaringan kulit. Intra kutan biasanya di gunakan untuk mengetahui sensivitas tubuh terhadap obat yang disuntikkan.
2. Tujuan
Pemberian obat intra kutan bertujuan untuk melakukan skintest atau tes terhadap reaksi alergi jenis obat yang akan digunakan. Pemberian obat melalui jaringan intra kutan ini dilakukan di bawah dermis atau epidermis, secara umum dilakukan pada daerah lengan tangan bagian ventral.

3. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
1. Tempat injeksi
2. Jenis spuit dan jarum yang digunakan
3. Infeksi yang mungkin terjadi selama infeksi
4. Kondisi atau penyakit klien
5. Pasien yang benar
6. Obat yang benar
7. Dosis yang benar
8. Cara atau rute pemberian obat yang benar
9. Waktu yang benar

4. Indikasi dan Kontra Indikasi
– Indikasi : bisa dilkakukan pada pasien yang tidak sadar, tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral, tidak alergi. Lokasinya yang ideal adalah lengan bawah dalam dan pungguang bagian atas.
– Kontra Indikasi : luka, berbulu, alergi, infeksi kulit
5. Alat dan Bahan
Daftar buku obat/catatan, jadwal pemberian obat.
Obat dalam tempatnya
Spuit 1 cc/spuit insulin
Cairan pelarut
Bak steril dilapisi kas steril (tempat spuit)
Bengkok
Perlak dan alasnya.

6. Prosedur Kerja
1. Cuci tangan
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada pasien
3. Bebaskan daerha yang akan disuntik, bila menggunakan baju lengan panjang terbuka dan keatasan
4. Pasang perlak/pengalas di bawah bagian yang akan disuntik
5. Ambil obat untuk tes alergi kemudian larutkan/encerkan dengan aquades. Kemudian ambil 0,5 cc dan encerkan lagi sampai kurang lebih 1 cc dan siapkan pada bak injeksi atau steril.
6. Desinfeksi dengan kapas alcohol pada daerah yang akan dilakukan suntikan.
7. Tegangkan dengan tangan kiri daerah yang akan disuntik.
8. Lakukan penusukan dengan lubang jarum suntik menghadap ke atas dengan sudut 15-20 derajat di permukaan kulit.
9. Suntikkkan sampai terjadi gelembung.
10. Tarik spuit dan tidak boleh dilakukan masase.
11. Cuci tangan dan catat hasil pemberian obat/tes obat, waktu, tanggal dan jenis obat.

Daerah Penyuntikan :
o Dilengan bawah : bagian depan lengan bawah 1/3 dari lekukan siku atau 2/3 dari pergelangan tangan pada kulit yang sehat, jauh dari PD.
o Di lengan atas : 3 jari di bawah sendi bahu, di tengah daerah muskulus deltoideus.

B. Pemberian Obat Via Jaringan SubKutan

1. Pengertian
Merupakan cara memberikan obat melalui suntikan di bawah kulit yang dapat dilakukan pada daerah lengan bagian atas sebelah luar atau sepertiga bagian dairi bahu, paha sebelah luar, daerah dada dan sekitar umbilicus (abdomen).
. 2. Tujuan
Pemberian obat melalui jaringan sub kutan ini pada umumnya dilakukan dengan program pemberian insulin yang digunakan untuk mengontrol kadar gula darah. Pemberian insulin terdapat 2 tipe larutan yaitu jernih dan keruh karena adanya penambahan protein sehingga memperlambat absorbs obat atau juga termasuk tipe lambat.
3. Hal-hal yang perlu diperhatikan
- Tempat injeksi
- Jenis spuit dan jarum suntik yang akan digunakan
- Infeksi nyang mungkin terjadi selama injeksi
- Kondisi atau penyakit klien
- Apakah pasien yang akan di injeksi adalah pasien yang tepat
- Obat yang akan diberikan harus benar
– Dosisb yang akan diberikan harus benar
- Cara atau rute pemberian yang benar
- Waktu yang tepat dan benar

4. Indikasi dan kontra indikasi
– Indikasi : bias dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama, karena tidak memungkinkan diberikan obat secara oral, bebas dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, otot atau saras besar di bawahnya, obat dosis kecil yang larut dalam air.
– Kontra indikasi : obat yang merangsang, obat dalam dosis besar dan tidak larut dalam air atau minyak.

5. Alat dan bahan
Daftar buku obat/catatan dan jadual pemberian obat
Obat dalam tempatnya
Spuit insulin
Kapas alcohol dalam tempatnya
Cairan pelarut
Bak injeksi
Bengkok perlak dan alasnya

6. Prosedur kerja
1. Cuci tangan
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3. Bebaskan daerah yang akan disuntik atau bebaskan suntikan dari pakaian. Apabila menggunakan pakaian, maka buka pakaian dan di keataskan.
4. Ambil obat dalam tempatnya sesuai dosis yang akan diberikan. Setelah itu tempatkan pada bak injeksi.
5. Desinfeksi dengan kapas alcohol.
6. Regangkan dengan tangan kiri (daerah yang akan dilakukan suntikan subkutan).
7. Lakukan penusukan dengan lubang jarum menghadap ke atas dengan sudut 45 derajat dari permukaan kulit.
8. Lakukan aspirasi, bila tidak ada darah, suntikkan secara perlahan-lahan hingga habis.
9. Tarik spuit dan tahan dengan kapas alcohol dan spuit yang telah dipakai masukkan ke dalam bengkok.
10. Catat hasil pemberian, tanggal, waktu pemberian, dan jenis serta dosis obat.
11. Cuci tangan.

Daerah Penyuntikan :
o Otot Bokong (musculus gluteus maximus) kanan & kiri ; yang tepat adalah 1/3 bagian dari Spina Iliaca Anterior Superior ke tulang ekor (os coxygeus)
o Otot paha bagian luar (muskulus quadriceps femoris)
o Otot pangkal lengan (muskulus deltoideus)

C. Pemberian Obat Via Intra Vena :
a. Pemberian Obat Via Jaringan Intra Vena langsung
1. Pengertian
Cara memberikan obat pada vena secara langsung. Diantaranya vena mediana kubiti/vena cephalika (lengan), vena sephanous (tungkai), vena jugularis (leher), vena frontalis/temporalis (kepala).

2. Tujuan
Pemberian obat intra vena secara langsung bertujuan agar obat dapat bereaksi langsung dan masuk ke dalam pembuluh darah.

3. Hal-hal yang diperhatikan
Setiap injeksi intra vena dilakukan amat perlahan antara 50 sampai 70 detik lamanya.
Tempat injeksi harus tepat kena pada daerha vena.
Jenis spuit dan jarum yang digunakan.
Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.
Kondisi atau penyakit klien.
Obat yang baik dan benar.
Pasien yang akan di injeksi adalah pasien yang tepat dan benar.
Dosis yang diberikan harus tepat.
Cara atau rute pe harus benar.mberian obat melalui injeksi
4. Indikasi dan kontra indikasi
– indikasi : bias dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral dan steril.
– kontra indikasi : tidak steril, obat yang tidak dapat larut dalam air, atau menimbulkan endapan dengan protein atau butiran darah.

5. Alat dan bahan
daftar buku obat/catatan dan jadual pemberian obat.
Obat dalam tempatnya.
Spuit sesuai dengan jenis ukuran
Kapas alcohol dalam tempatnya.
Cairan pelarut (aquades).
Bak injeksi.
Bengkok.
Perlak dan alasnya.
Karen pembendung.

6. Prosedur kerja
1. cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Bebaskan daerah yang akan disuntik dengan cara membebaskan pakaian pada daerah penyuntikan, apabila tertutup, buka dan ke ataskan.
4. Ambil obat pada tempatnya sesuai dosi yang telah ditentukan. Apabila obat dalam bentuk sediaan bubuk, maka larutkan dengan aquades steril.
5. Pasang perlak atau pengalas di bawah vena yang akan dilakukan injeksi.
6. Tempatkan obat yang telah di ambil ke dalam bak injeksi.
7. Desinfeksi dengan kapas alcohol.
8. Lakukan pengikatan dengan karet pembendung pada bagian atas daerah yang akan dilakukakn pemberian obat atau minta bantuan untuk membendung daerah yang akan dilakukan penyuntikan dan lakukan penekanan.
9. Ambil spuit yang berisi obat.
10. Lakukan penusukan dengan lubang menghadap ke atas dengan memasukkan ke pembuluh darah.
11. Lakukan aspirasi, bila sudah ada darah lepaskan karet pembendung dan langsung semprotkan hingga habis.
12. Setelah selesai ambil spuit dengan menarik secara perlahan-lahan dan lakukan masase pada daerah penusukan dengan kapas alcohol, spuit yang telah digunakan di masukkan ke dalam bengkok.
13. Catat hasil pemberian, tanggal, waktu, dan dosis pemberian obat.
14. Cuci tangan.

b. Pemberian Obat Via Jaringan Intra Vena Secara tidak Langsun.
1. Pengertian
Merupakan cara memberikan obat dengan menambahkan atau memasukkan obat ke dalam wadah cairan intra vena.

2. Tujuan
Pemberian obat intra vena secara tidak langsung bertujuan untuk meminimalkan efek samping dan mempertahankan kadar terapeutik dalam darah.

3. Hal-hal yang perlu diperhatikan
– injeksi intra vena secara tidak langsung hanya dengan memasukkan cairan obat ke dalam botol infuse yang telah di pasang sebelumnya dengan hati-hati.
– Jenis spuit dan jarum yang digunakan.
-Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.
- Obat yang baik dan benar.
- Pasien yang akan di berikan injeksi tidak langsung adalah pasien yang tepat dan benar.
- Dosis yang diberikan harus tepat.
tidak langsung harus tepat dan benar.- Cara atau rute pemberian obat melalui injeksi

4. Indikasi dan kontra indikasi
– indikasi : bias dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral dan steril.
– kontra indikasi : tidak steril, obat yang tidak dapat larut dalam air, atau menimbulkan endapan dengan protein atau butiran darah.

5. Alat dan bahan
- Spuit dan jarum sesuai ukuran
- Obat dalam tempatnya.
- Wadah cairan (kantung/botol).
- Kapas alcohol dalam tempatnya..

6. Prosedur kerja
1. cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Periksa identitas pasien dan ambil obat dan masukkan ke dalam spuit.
4. Cari tempat penyuntikan obat pada daerah kantung. Alangkah baiknya penyuntikan pada kantung infuse ini dilakukan pada bagian atas kantung/botol infuse.
5. Lakukan desinfeksi dengan kapas alcohol pada kantung/botol dan kunci aliran infuse.
6. Lakukan penyuntikan dengan memasukkan jarum spuit hingga menembus bagian tengah dan masukkan obat secara perlahan-lahan ke dalam kantong/botol infuse/cairan.
7. Setelah selesai, tarik spuit dan campur larutan dengan membalikkan kantung cairan dengan perlahan-lahan dari satu ujung ke ujung yang lain.
8. Ganti wadah atau botol infuse dengan cairan yang sudah di injeksikan obat di dalamnya. Kemudian gantungkan pada tiang infuse.
9. Periksa kecepatan infuse.
10. Cuci tangan.
11. Catat reaksi pemberian, tanggal, waktu dan dosis pemberian.

Daerah Penyuntikan :
o Pada Lengan (v. mediana cubiti / v. cephalika)
o Pada Tungkai (v. Spahenous)
o Pada Leher (v. Jugularis)
o Pada Kepala (v. Frontalis atau v. Temporalis) khusus pada anak – anak

D. Pemberian Obat Via Intra Muskular
1. Pengertian
Merupakan cara memasukkan obat ke dalam jaringan otot. Lokasi penyuntikan dapat dilakukan pada daerah paha (vastus lateralis) dengan posisi ventrogluteal (posisi berbaring), dorsogluteal (posisi tengkurap), atau lengan atas (deltoid).

2. Tujuan
Agar obat di absorbs tubuh dengan cepat.

3. Hal-hal yang perlu diperhatikan
- Tempat injeksi.
an.- Jenis spuit dan jarum yang digunak
- Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.
- Kondisi atau penyakit klien.
- Obat yang tepat dan benar.
- Dosis yang diberikan harus tepat.
- Pasien yang tepat.
- Cara atau rute pemberian obat harus tepat dan benar.

4. Indikasi dan kontra indikasi
– indikasi : bias dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral, bebas dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, otot atau saras besar di bawahnya.
– kontra indikasi : Infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, otot atau saraf besar di bawahnya.

5. Alat dan bahan
- Daftar buku obat/catatan dan jadual pemberian obat.
- Obat dalam tempatnya.
- Spuit da jarum suntik sesuai dengan ukuran. Untuk dewasa panjangnya 2,5-3 cm, untuk anak-anak panjangnya 1,25-2,5 cm.
-Kapas alcohol dalam tempatnya.
- Cairan pelarut.
- Bak injeksi.
- Bengkok.

6. Prosedur kerja
1. cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Ambil obat dan masukkan ke dalam spuit sesuai dengan dosisnya. Setelah itu letakkan dalam bak injeksi.
4. Periksa tempat yang akan di lakukan penyuntikan (perhatikan lokasi penyuntikan).
5. Desinfeksi dengan kapas alcohol pada tempat yang akan dilakukan injeksi.
6. Lakukan penyuntikan :
Pada daerah paha (vastus lateralis) dengan cara, anjurkan pasien untuk berbaring telentang dengan lutut sedikit fleksi.
Pada ventrogluteal dengan cara, anjurkan pasien untuk miring, tengkurap atau telentang dengan lutut dan pinggul pada sisi yang akan dilakukan penyuntikan dalam keadaan fleksi.
cara, anjurkan pasien untuk tengkurapPada daerah dorsogluteal dengan dengan lutut di putar kea rah dalam atau miring dengan lutut bagian atas dan diletakkan di depan tungkai bawah.
cara, anjurkanPada daerah deltoid (lengan atas) dilakukan dengan pasien untuk duduk atau berbaring mendatar lengan atas fleksi.
7. Lakukan penusukan dengan posisi jarum tegak lurus.
8. Setelah jarum masuk, lakukan aspirasi spuit, bila tidak ada darah yang tertarik dalam spuit, maka tekanlah spuit hingga obat masuk secara perlahan-lahan hingga habis.
9. Setelah selesai, tarik spuit dan tekan sambuil di masase daerah penyuntikan dengan kapas alcohol, kemudian spuit yang telah di gunakan letakkan dalam bengkok.
10. Catat reaksi pemberian, jumlah dosis, dan waktu pemberian.
11. Cuci tangan

Daerah Penyuntikan :
o Bagian lateral bokong (vastus lateralis)
o Butoks (bagian lateral gluteus maksimus)
o Lengan atas (deltpid)

PRINSIP 6 ( ENAM ) BENAR DALAM PEMBERIAN OBAT

1.Benar Pasien
• Sebelum obat diberikan, identitas pasien harus diperiksa (papan identitas di tempat tidur, gelang identitas) atau ditanyakan langsung kepada pasien atau keluarganya. Jika pasien tidak sanggup berespon secara verbal, respon non verbal dapat dipakai, misalnya pasien mengangguk. Jika pasien tidak sanggup mengidentifikasi diri akibat gangguan mental atau kesadaran, harus dicari cara identifikasi yang lain seperti menanyakan langsung kepada keluarganya. Bayi harus selalu diidentifikasi dari gelang identitasnya.
2.Benar Obat
• Obat memiliki nama dagang dan nama generik. Setiap obat dengan nama dagang yang kita asing (baru kita dengar namanya) harus diperiksa nama generiknya, bila perlu hubungi apoteker untuk menanyakan nama generiknya atau kandungan obat. Sebelum memberi obat kepada pasien, label pada botol atau kemasannya harus diperiksa tiga kali. Pertama saat membaca permintaan obat dan botolnya diambil dari rak obat, kedua label botol dibandingkan dengan obat yang diminta, ketiga saat dikembalikan ke rak obat. Jika labelnya tidak terbaca, isinya tidak boleh dipakai dan harus dikembalikan ke bagian farmasi.
• Jika pasien meragukan obatnya, perawat harus memeriksanya lagi. Saat memberi obat perawat harus ingat untuk apa obat itu diberikan. Ini membantu mengingat nama obat dan kerjanya.
3.Benar Dosis
• Sebelum memberi obat, perawat harus memeriksa dosisnya. Jika ragu, perawat harus berkonsultasi dengan dokter yang menulis resep atau apoteker sebelum dilanjutkan ke pasien. Jika pasien meragukan dosisnya perawat harus memeriksanya lagi. Ada beberapa obat baik ampul maupun tablet memiliki dosis yang berbeda tiap ampul atau tabletnya. Misalnya ondansentron 1 amp, dosisnya berapa ? Ini penting !! karena 1 amp ondansentron dosisnya ada 4 mg, ada juga 8 mg. ada antibiotik 1 vial dosisnya 1 gr, ada juga 1 vial 500 mg. jadi Anda harus tetap hati-hati dan teliti.
4.Benar Cara/Rute
• Obat dapat diberikan melalui sejumlah rute yang berbeda. Faktor yang menentukan pemberian rute terbaik ditentukan oleh keadaan umum pasien, kecepatan respon yang diinginkan, sifat kimiawi dan fisik obat, serta tempat kerja yang diinginkan. Obat dapat diberikan peroral, sublingual, parenteral, topikal, rektal, inhalasi.
a. Oral
• Adalah rute pemberian yang paling umum dan paling banyak dipakai, karena ekonomis, paling nyaman dan aman. Obat dapat juga diabsorpsi melalui rongga mulut (sublingual atau bukal) seperti tablet ISDN.
b. Parenteral
• Kata ini berasal dari bahasa Yunani, para berarti disamping, enteron berarti usus, jadi parenteral berarti diluar usus, atau tidak melalui saluran cerna, yaitu melalui vena (perset / perinfus).
c. Topikal
• Yaitu pemberian obat melalui kulit atau membran mukosa. Misalnya salep, losion, krim, spray, tetes mata.
d. Rektal
• Obat dapat diberi melalui rute rektal berupa enema atau supositoria yang akan mencair pada suhu badan. Pemberian rektal dilakukan untuk memperoleh efek lokal seperti konstipasi (dulkolax supp), hemoroid (anusol), pasien yang tidak sadar / kejang (stesolid supp). Pemberian obat perektal memiliki efek yang lebih cepat dibandingkan pemberian obat dalam bentuk oral, namun sayangnya tidak semua obat disediakan dalam bentuk supositoria.
e. Inhalasi
• Yaitu pemberian obat melalui saluran pernafasan. Saluran nafas memiliki epitel untuk absorpsi yang sangat luas, dengan demikian berguna untuk pemberian obat secara lokal pada salurannya, misalnya salbotamol (ventolin), combivent, berotek untuk asma, atau dalam keadaan darurat misalnya terapi oksigen.
5.Benar Waktu
• Ini sangat penting, khususnya bagi obat yang efektivitasnya tergantung untuk mencapai atau mempertahankan kadar darah yang memadai. Jika obat harus diminum sebelum makan, untuk memperoleh kadar yang diperlukan, harus diberi satu jam sebelum makan. Ingat dalam pemberian antibiotik yang tidak boleh diberikan bersama susu karena susu dapat mengikat sebagian besar obat itu sebelum dapat diserap. Ada obat yang harus diminum setelah makan, untuk menghindari iritasi yang berlebihan pada lambung misalnya asam mefenamat.
6.Benar Dokumentasi
• Setelah obat itu diberikan, harus didokumentasikan, dosis, rute, waktu dan oleh siapa obat itu diberikan. Bila pasien menolak meminum obatnya, atau obat itu tidak dapat diminum, harus dicatat alasannya dan dilaporkan

hhhhee….smga bermanfaatt

Tinggalkan komentar

PELANGGARAN ETIKA KEPERAWATAN

BAB 1

URAIAN KASUS

Pelanggaran etika keperawatan pada saat melakukan perawatan luka Disebuah bangsal RS X di kota D tempat penulis praktik terjadi pelanggaran etika keperawatan ,kondisi pada saat itu di RS tersebut memang jumlah perawat lbih sedikit dari pasien

Kasus ini berawal ssat saya mendampingi perawat yang berinisial Y saat melakukan melakukan perawatan luka pada pasien DM perawat Y melakukan pelanggaran etika yaitu tidak memakai prisip steril pada perawatan luka.pada waktu itu perawat Y memakai handskon dengan prinsip bersih bukan prinsip steril pada saat itu handskon memang berada dalam toples dan berisi bnyak handskon pada saat itu perawat Y mengambil handskon yang seharusnya dengan korentang namun mengambil hanya dengan tangan karena korentangnya tidak ada dan juga pada saat pemakaianya hanya dengan prinsip bersih yaitu memakai handskon dengan cara biasa handskon di pakai dengan tidak memperhatika sisi yang seharusnya steril dan sisi yang seharusnya boleh di pegang, hal ini mungkin karna perawat menganggap ini hal sepele dan mungkin ini juga karna terburu buru jadi perawat tidak memperdulikan hal itu

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

KONSEP DASAR
DIABETES MELLITUS

A. PENGERTIAN
Adalah keadaan hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, syaraf dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam mikroskop elektron.

B. ETIOLOGI.
 Insulin Dependent Diabetes Mellitus ( IDDM ) atau DM Tergantung Insulin (DMTI) disebabkan oleh destruksi sel Beta pulau Langerhans akibat respon autoimun secara genetik atau karena infeksi ( biasanya oleh virus ).
 Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus ( NIDDM ) disebabkan oleh kegagalan relatif sel Beta, interaksi antara hereditas dan faktor-faktor lingkungan, seperti obesitas, diet dan gaya hidup.

C. PATOFISIOLOGI.

Destruksi sel Beta pulau Langerhans

Resistensi insulin

Defisiensi relatif insulin

Kegagalan pengambilan glukosa oleh jaringan perifer
( akibat peningkatan glikogenolisis dan glukoneogenesis )

Peningkatan kecepatan lipolisis dan ketogenesis.

Ekskresi ke ginjal dan timbul manifestasi klinis
( polidipsi, polipaghi, poliuri sebagai kompensasi )

D. MANIFESTASI KLINIK.
Polipaghi, polidipsi, poliuri, lemah dan penurunan berat badan. Gangguan lain dapat berupa kesemutan, gatal, mata kabur, impotensi pada pria, pruritus vulva pada wanita.

E. KOMPLIKASI.
1. Akut.
a. Koma hipoglikemi.
b. Ketoasidosis.
c. Koma hiperosmolar non ketotik.
2. Kronik.
a. Makrongiopati dan mikrongiopati.
b. Neuropati diabetik.
c. Rentan infeksi : TBC, ginggivitis, ISK.
d. Kaki diabetik.
Ganggren basah, merupakan akibat penutupan arteri yang mendadak terutama pada anggota bawah dimana aliran darah sebelumnya mencukupi, misalnya terjadi emboli yang akut. Daerah yang terkena berbercak-bercak dan bengkak. Kulit kerapkali menjadi melepuh dan menjadi port d’ entre, infeksi kerapkali terjadi supra infeksi, bisa terjadi melalui daerah yang baru saja mengalami epidermophyyosis. Sifat khas pada ganggren basah sebagian disebabkan oleh infeksi sehingga terdapat beberapa tingkatan infeksi kemerahan, pembengkakan dan edema yang progresif di atas daerah yang terkena pada jaringan yang nekrotik oleh karena pembentukkan gas oleh mikroorganisme meskipun bukan merupakan faktor utama. Ganggren circulatoir pada penderita diabetes, baik berbentuk basah maupun kering dapat mengalami infeksi oleh karena jaringan tersebut rentan. Pada umumnya, proses septik menjadi dominan, sehingga ganggren dan nekrose menjadi lebih luas daripada kegagalan aliran darah itu sendiri. Diabetik ganggren menjadi istilah untuk menandai bahwa infeksi memegang peranan penting dan menonjol.

F. PENATALAKSANAAN.
1. Perencanaan makan ( Meal Planning ).
 Karbohidrat : 60 – 70 %
 Lemak : 20 – 25 %
 Protein : 10 – 15 %
2. Latihan jasmani 3 – 4 kali tiap minggu selama setengah jam.
3. Obat hipoglikemik
contoh : Sulfaniturea, Biguanid, Inhibitor Alpha Glukosidase, Insulin Sensitizing Agent.

KONSEP DASAR
GANGGREN

A. DEFINISI.
Suatu daerah nekrose ( kematian jaringan sebagian yang mengenai suatu bagian badan ), misalnya jari dan tungkai.

B. ETIOLOGI.
 Kekurangan aliran darah.
 Infeksi bakteri.
 Trauma.

C. MACAM-MACAM GANGGREN.
1. Ganggren circulatoir.
Tipe ganggren :
a. Ganggren kering.
Penyumbatan arteria terjadi secara perlahan-lahan, mula-mula terlihat anemis lambat laun akan terjadi mummifikasi. Akhirnya ekstremitas akan susut, layu, berwarna hitam. Jika permukaan kulit tidak rusak, biasanya tidak akan kena infeksi. Bentuknya khas dan merupakan akibat penutupan arteria yang perlaha-lahan tetapi progresif.

b. Ganggren basah.
Merupakan akibat penutupan arteri yang mendadak terutama pada anggota bawah dimana aliran darah sebelumnya mencukupi, misalnya terjadi emboli yang akut. Daerah yang terkena berbercak-bercak dan bengkak. Kulit kerapkali menjadi melepuh dan menjadi port d’ entre, infeksi kerapkali terjadi supra infeksi, bisa terjadi melalui daerah yang baru saja mengalami epidermophyyosis.
Sifat khas pada ganggren basah sebagian disebabkan oleh infeksi sehingga terdapat beberapa tingkatan infeksi kemerahan, pembengkakan dan edema yang progresif di atas daerah yang terkena pada jaringan yang nekrotik oleh karena pembentukkan gas oleh mikroorganisme meskipun bukan merupakan faktor utama

Ganggren circulatoir pada penderita diabetes, baik berbentuk basah maupun kering dapat mengalami infeksi oleh karena jaringan tersebut rentan. Pada umumnya, proses septik menjadi dominan, sehingga ganggren dan nekrose menjadi lebih luas daripada kegagalan aliran darah itu sendiri. Diabetik ganggren menjadi istilah untuk menandai bahwa infeksi memegang peranan penting dan menonjol.

2. Ganggren traumatik.
Adalah destruksi jaringan yang disebabkan oleh kontusi langsung dengan kerusakan pembuluh darah lokal daripada trauma yang mengenai vasa utama ke ekstremitas. Pada beberapa perlukaan komplikasi berupa spasme arteri atau oklusi vena, super infeksi dapat mengakibatkankehilangan ekstremitas, tapi dapat diselamatkan bila infeksi dapat dicegah. Beberapa kasus ganggren traumatik dapat mengalami komplikasi ganggren iskemik karena terkenanya arteri yang besar sehingga diperlukan perbaikan arteri atau amputasi.

3. Ganggren bakterial.
Adalah nekrose jaringan akibat bakteri didahului oleh beberapa derajat ganggren iskemik initial yang mengakibatkan terjadinya jaringan nekrotik yang penting bagi bakteri untuk tumbuh dengan cepat.
Ada 2 bentuk berlainan dari ganggren bakterial yaitu :
a. Infeksi Clostridium Anaerob dan Ganggren.
Harus ditekankan penemuan organisme penghasil spora yang anaerob termasuk Clostridium Perfringens pada luka tidak ada.
Gambaran klasik infeksi clotridia :
 Diffuse Clostridial Myositis ( gas ganggren )
– Bentuk letal dan fulminan timbul dalam beberapa jam atau hari setelah terjadi luka. Jika debridement tidak memadai dapat timbul dalam hari ke – 10 atau ke – 13, bisa juga terjadi kerusakan arteriil yang tidak diketahui terutama jika luka dibungkus dengan plester yang ditekan kuat.
– Keadaan umum penderita mendadak berubah dan merupakan pertanda akan adanya serangan gas ganggren.
– Penderita pucat.
– Kebiru-biruan.
– Gelisah.
– Merasa sangat nyeri pada anggota yang terkena.
– Temperatur naik ( sub normal).
– Pada stadium permulaan nadi dan TD tidak mencerminkan beratnya penyakit tetapi kemudian terjadi takikardi dan hipertensi, kolaps, sianosis dan dingin pada ekstremitas. Muka asianotik atau menjadi coklat, pucat karena hemolisa yang hebat.
– Perubahan pada ekstremitas yang bersangkutan adalah khas, sangat bengkak, edema, berubah warna, mula-mula berwarna biru atau berbercak kemerahan, pucat seperti kadaver, bau seperti bau kamar mayat.
– Sering merembes sedikit discharge, serosanguineus yang cair, krepitasi jaringan meluas keseluruh anggota badan dan merupakan suatu tanda klasik adanya gas dalam jaringan.
– Kerusakan otot yang luas dan kerusakan pembuluh darah besar, sifat luka mengenai penyediaan darah yang bersangkutan, toxaemia beratt, pembengkakan yang luas ditungkai dan perkembangan cepat penyakit tersebut.

 Edematus Ganggren
Disebabkan oleh clostridium novyi, tidak dihasilkan gas tetapi terjadi odem otot yang masif tanpa kerusakan vaskular primer. Perjalanan penyakit fulminans dan terapi yang efektif yaitu debridement yang awal dan luas.

 Localized Clostridium Myositis
Luka yang pertama biasanya terbatas, kerusakan otot ringan dan terjadi hanya pada sebagian kecil otot dan tidak terjadi kerusakan pada arteri besar. Didapatkan discharge serosanguinis cair pada luka. Pada tepi luka terdapat edema, nyeri tekan, warna kemerahan, pada palpasi sering adanya krepitasi yang luas sedikit jauh dari luka, kadang-kadang demam tinggi dan takikardi, penyediaan darah ke ekstremitas tetap utuh. Daerah tungkai disebelah distal injeksi tetap hangat dan pulsus perifer tetap normal. Keadaan ini dapat ditolong dengan eksisi terhadap berkas-berkas otot yang terkena infeksi dan nekrose.

 Clostridial Cellulitis
Suatu infeksi anaerob dijaringan subkutan yang terus mengadakan perluasan. Pada kasus yang lanjut terjadi edematus, bengkak dan pucat, warna kulit berubah, nekrotik, krepitasi terdapat diseluruh ektremitas.
Clostridium Cellulitis merupakan suatu proses yang berkembang agak lambat, tampak 10 hari atau lebih setelah terjadi luka. Luka pertama tidak disertai perlukaan muskulus yang luas. Luka biasanya dipermukaan dan tidak ada kerusakan pembuluh darah besar.
Pada pemeriksaan menunjukkan adanya sirkulasi yang sempurna pada ekstremitas. Penyembuhan akan segera terjadi setelah dilakukan drainase dan eksisi jaringan nekrotik
Hiperbarik terapi adalah baik untuk semua infeksi anaerob tetapi tidak dapat untuk menggantikan debridement yang awal dan luas terhadap jaringan yang terkena. O2 dapat menghambat pembentukkan lecithinase oleh clostridia tetapi tidak berefek terhadap toksin, dapat pula menghambat bakteriaemi tapi juga tidak berefek terhadap organisme dalam otot yang nekrose dan abses. Penicillin dosis tinggi untuk menghambat pertumbuhan organisme lain.

b. Infeksi Streptococcus dan Ganggren.
Dikenal dengan istilah necrotizing erysipelas. Dengan adanya antibiotoka. Lesi ini jarang diketemukan lagi. Lesi ini dapat berhubungan dengan infeksi streptococcus yang sekunder terhadap ulcerasi lokal akibat epidermophytosis. Gambaran pokok adalah cellulitas yang menyebar dilapisan fasela dan bukan pada kulit sendiri. Dapat disertai dengan kelemahan umum yang hebat. Kulit pada ekstremitas terkena menunjukkan warna suram dan akhirnya bergelembung-gelembung dan terjadi nekrose.

c. Mycetoma ( Madura Foot )
Adalah lesi karena jamur yang jarang ini supaya dipertimbangkan kemungkinannya apabila didapati suatu lesi yang destruktif dengan perkembangan yang lambat dan tidak nyeri. Terjadi sesudah adanya trauma ringan, seperti menginjak duri. Mycetoma disebabkan oleh fungus spesifik, madurella mycetomi, dan disebabkan oleh fungus lain seperti jenis actinomyces.
Lesi ini dimulai sebagai pembengkakan tanpa rasa nyeri dengan daerah undurasi lebih dalam dibawahnya. Perjalanan penyakitnya tidak dapat dihentikan. Kemudian terjadi destruksi yang progresif pada jaringan lunak dan tulang, pembengkakan setempat dan tampak ulserasi kecil dan sinus-sinus., oleh karena rasa nyeri yang minimal, maka penderita biasanya tetap mampu berdiri meskipun telah terjadi destruksi kaki sebagian ataupun total.
Penyembuhan penyakit ini cukup dengan tindakan excici, karena sifat perkembangan penyakit itu hanya setempat.

Untuk mencegah terjadinya perluasan luka ( ganggren ) maka perlu dilakukan perawatan luka dan tindakan asepsis.
Aturan dalam perawatan luka :
a. Menghindari terjadinya pencemaran.
b. Mengusahakan balutan tetap kering.
c. Proses perkembangan aliran darah lokal.
d. Mengembangkan kondisi yang baik.
e. Selalu berusaha agar luka bersih.
f. Penyokong yang baik untuk luka.
g. Menghindari kondisi luka yang makin memburuk.
h. Menghindari rasa sakit yang tidak perlu.

PROTAP PERAWATAN LUKA

 Pengertian.
Merawat luka terinfeksi :
a. Luka + serum.
b. Luka + pus.
c. Luka + pus + nekrose.

 Tujuan.
a. Mempercepat penyembuhan.
b. Mencegah gangguan rasa nyaman bagi yang bersangkutan maupun bagi pasien lain terutama bila luka nekrose dan berbau.

 Perincian Tugas.
a. Menyiapkan alat-alat ;
1. Alat-alat steril ( dalam tempat steril ).
• Pinset anatomis 1 buah.
• Pinset chirurgis 2 buah.
• Gunting lurus / bengkok.
• Kapas lidi.
• Kasa penekan / kapas bulat.
• Kasa steril secukupnya.
• Mangkok kecil 2 buah.

2. Alat-alat tidak steril ( diletakkan pada baki atau kereta pembalut )
• Gunting pembalut.
• Plester.
• Botol berisi alkohol 70 % dan bethadine.
• Bensin dalam tempatnya.
• Obat-obatan desinfektan : perhydrol, savlon, PK.
• Pembalut secukupnya.
• Bengkok / kantong plastik.

b. Menyiapkan pasien.
 Memperkenalkan diri.
 Menjelaskan tujuan dilakukannya prosedur.
 Menjelaskan langkah perasat.
 Meminta persetujuan pasien.
 Menyiapkan pasien sesuai kebutuhan.

c. Pelaksanaan.
1. menempatkan alat-alat kedekat pasien.
2. mencuci tangan sebelumdan sesudah melakukan perasat.
3. alat-alat disiapkan sesuai kebutuhan.
4. pembalut dibuka dengan pinset dan dubuang pada tempatnya.
5. bekas plester dibersihkan dengan yodi bensin.
6. luka dicuci / dibersihkan dengan kapas desinfektan sesuai advis dokter ( perhydrol, savlon, PK ) sampai bersih, bila perlu dilakukan juga nekrotomi, kemudian bilas dengan bwc/pz.
7. kompres luka dengan bwc / bethadine sesuai advis dokter, kemudian tutup dengan kasa steril lalu dibalut / diplester rapi.
8. pasien dirapikan.
9. alat-alat dibereskan.
10. mengamati respon pasien baik verbal maupun non verbal.

d. Mencatat perkembangan keadaan luka.

I. Tanggung jawab perawat

A. Tanggung jawab perawat terhadap klien
1. Perawat dalam melaksanakan pengabdiannya, senantiasa berpedoman pada tanggung jawab yang bersumber dari adanya kebutuhan terhadap perawatan individu, keluarga dan masyarakat
2. Perawat dalam melaksanakan pengabdian di bidang keperawatan, memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai – nilai budaya adat istiadat dah kelangsungan hidup beragama dari individu, keluarga dan masyarakat
3. Perawat dalam melaksanakan kewajibanya tehadap individu keluarga dan masyarakat senantiasa dilandasi rasa tulus ikhlas sesuai dengan martabat dan tradisi luhur keperawatan
4. Perawat menjalin hubungan kerja sama dengan individu, keluarga dan masyarakat khususnya dalam mengambil prakarsa dan mengadakan upaya kesehatan serta apaya kesejahteraan pada umumnya sebagai bagian dari tugas dan kewajiban bagi kepentingan masyarakat

B. Tanggung jawab perawat terhadap tugas
1. Perawat memelihara mutu pelayanan keperawatn yang tinggi disertai profesional dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan keperawatn sesuai dengan kebutuhan individu, kelurga dan masyarakat
2. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya sehunbunagn dengan tugas yang dipercayakan kepadanya, kecuali jika diperlukan oleh pihak yang berwenana sesuai dengan ketentuan hukum yang belaku
3. Perawat tidak akan menggunakan pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang dimiliki untuk tujuan yang bertentangan dengan norma – norma kemanusiaan
4. Perawat dalam menunaikan tugasnya dan kewajibanya senantiasa berusaha dengan penuh kesadaran agar tidak terpengaruh oleh pertimbangan, kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, agama yang dianut, dan kedudukan sosial
5. Perawat mengutamakn perlindungan dan keselamatan pasien (klien) dalam melaksanakn tugas keperawatan, serta matang dalam mempertimbangkan kemampuan jika menerima atau mengalih tugaskan tanggung jawab yang ada hubungannya dengan keperawatan

II. Hak – hak Pasien
Menurut Nation League For Nursing (1997) hak – hak pasien adalah
1. Hak memperoleh asuhan sesuai standar profesional tanpa memandang tatanan kesehatan yang ada
2. Hak untuk diperlakukan secara sopan santun, serta keramahan dari perawat yang bertugas tanpa membedakan ras, warna kulit, derajat di masyarakat , jenis kelamin kebangsaan dan sebagainya
3. Hak memperoleh informasi tentana diagnosis penyakitnya, prognosis pengobatan termasuk alternative pengibatan dan resiko yang mungkin terjadi agar pasien dan keluarga memberikan persetujuan medis yang akan dilakukan terhadapnya
4. Hak legal untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan tentang asuhan keperawatanyang akan diberikan kepadanya
5. Hak menolak obsevasi dari tim kesehatan yang tidak langsung terlibat dalam asuhan kesehatannya
6. Hak mendapat privasi selama wawancara, pemeriksaan kesehatan, dan pengobatan
7. Hak mendapat privasi untuk berkomunikasi dan menerima kunjungan dari orang – orang yang disetujuinya
8. Hak menolak pengobatan untuk pcatisipasi dalam penelitian dan eksperimen yang dilakukan tanpa jaminan hukum bila terjadi dampak yang merugikan
9. Hak menerima pendidikan / intruksi yang tepat dari petugas kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan tentang kebutuhan kesehatan dasar secara optimal
10. Hak terhadap koordinasi dan asuhan kesehatan yang berkelanjutan
11. Hak kerahasiaan terhadap dokumen serta hasil komunukasi baik secara lisan maupun tulisan yang diberikan kepada petugas kesehatan kecuali untuk kepentingan hukum

III. Kewajiban Perawat
a. Kewajiban Perawat
1. Perawat wajib mematuhi institusi yang bersangkutan
2. Perawat berhak memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan sesuai standar profesi dan batas – batas kegunaanya
3. Perawat wajib menghormati hak – hak pasien
4. Perawat wajib merujuk pasien kepada perawat atau tenaga kesehatan lain yang mempunyai keahlian dan kemampuan yang lebih baik bila yang bersangkutan tidak dapat mengatasi sediri
5. Perawat wajib memberi kesempatan pada klien / pasien untuk berhubungan dengan keluarganya sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan dan standar profesi yang ada
6. Perawat wajib memberikan kesempatan kepada pasien untuk menjalankan ibadahnya sesuai agam dan kepercayaanya
7. Perawat wajib berkolaborasi dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan terkait lainnya dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap pasie4n
8. Perawat wajib memberikan informasi yang akurat tentang tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien sesuai batas kemampuannya
9. Perawat wajib membuat dokumentasi keperawatan secara akurat dan berkesinambungan
10. Perawat wajib meningkatkan mutu pelayanan keperawatan
11. Perawat wajib membuat dokumentasi asuhan keperawatan sesuai standar profesi keperawatan demi kepuasan pasien
12. Perawat wajib mengikuti perkembangan IPTEK keperawatan atau kesehatan secara terus menerus
13. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang klien, kecuali diminta keterangan oleh pihak berwenang
14. Perawat wajib memenuhi hal – hal yang telah disepakati atau perjanjian yang telah dibuat sebelumnya terhadap institusi tempat kerja

IV. Hubungan Perawat dengan Pasien
Dasar hubungan perawat dengan klien adalah hubungan yang saling menguntungkan. Hubungan yang baik antara perawat dan pasien akan terjadi apabila
1. Terdapat saling percaya antara pasien dengan pasien
2. Perawat benar – benar memahami tentang hak – hak pasien dan harus melindungi hak tersebut , salah satunya adalah hak untuk menjaga privasi klien
3. Perawat harus sensitif terhadap perubahan – perubahan yang terjadi pada pribadi pasien yang disebabkan oleh penyakit yang dideritanya
4. Perawat harus memahami keberadaan pasien atau klien sehingga dapat bersikap sabar dan tetap memperhatikan timbangan etis dan moral
5. Dapat bertanggung jawab dan bertanggunga gugat atas segala resiko yang mungkin timbul selama pasien dalam perawatannya
6. Perawat sedapat mungkin untuk menghindari konflik antara nilai – nilai pribadinya dengan nilai – nilai pribadi pasien dengan cara membina hubungan yang baik antara pasien, keluarga dan teman sejawat serta dokter untuk kepentingan pasiennya

VI. Peran Peawat
Profesi perawat professional berartitampilan secara utuh dalam melakukan aktifitas keperawatan berdasarkan ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap professional yang sesuai kode etik keperawatan
1. Peran sebagai pelaksana, perawat bertindak sebagai
a. Pemberi rasa nyaman (comforter) yang berusaha untuk memberi keterangan dan kenyamanan kepada pasien
b. perlindungan (proteclor) san pembela (ascokad) yang berusaha untuk melindungi san membela kepentingan pasiwn agar dapat menggunakan hak – haknya seoptimal mungkin
c. komunikator yang berperan dalam memberi penjelasan dengan berkomunikasi kepada pasien dalam upaya meningkatkan kesehatannya
d. mediator yang memberi kemudahan kepada pasien untuk mengatakan keluhannya kepada tim kesehatan dan kepada keluarganya agar dapat membantu kelancaran pelaksanaan asuhan keperawatannya
e. Rehabilitator yang bertugas mengembalikan kepercayaan terhadap dirinya, baik semasa dirawat di rumah sakit atau setelah pulang ke rumah dan dapat diterima dengan baik oleh keluarga dan masyarakat dimana ia tinggal
2. Peran sebagai pendidik dan penyuluh
Yaitu memberi penyuluhan kepada pasien, keluarga dan masyarakat yang ada di lingkup tanggung jawabnya tentang kesehatan dan keperawatan yang dibutuhkannya

3. Peran sebagai pengelola
Yaitu dapat mengelola asuhan keperawatan dalam ruang lingkup tanggung jawabnya termasuk membuat catatan dan laporan pasien

Nilai dan sikap yang sangat diperlukan oleh perawat
a. Nilai yang sangat diperlukan oleh perawat
1. Kejujuran
2. Lemah lembut
3. Ketepatan setiap tindakan
4. Menghargai oaring lain
b. Sikap seorang perawat
1. Memberi contoh , teladan atau model peran
2. Membujuk atau menyakinkan
3. Mangajarkan melalui budaya
4. Pilihan terbatas
5. Menetapkan melalui peraturan peraturan
6. Mempertimbangkan dengan hati nurani

Undang – Undang Republik Indonesia Nomoa 23 tahun 1992 tantang Kesehatan pasal 53
1. Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya
2. Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien
3. Tenaga kesehatan, untuk kepentingan pembuktian dapat melakukan tindakan medis rehadap seseorang sengat memperhatikan kesehatan dan keselamatan yang bersangkutan
4. Ketentuan mengenali standar profesi dan hak – hak pasien sebagai mana dimaksud dalam ayat 2 ditetapkan dengan peraturan pemerintah

BABIII
PEMBAHASAN
Dalam bab ini saya akan membahas tentang pelanggaran etika apa yang dilakukan perawat Y pada saat perawatan luka DM.
Penyakit DM Adalah keadaan hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, syaraf dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam mikroskop electron. Perawatan luka pada penyakit DM ini harus dilakukan dengan tehnik steril.seperti memakai sarung tangan harus memakai sarung tangan yang steril karena untuk mencegah terjadinya infeksi.adapiun alat alat yang harus steril antara lain;
1. Alat-alat steril ( dalam tempat steril ).
• Pinset anatomis 1 buah.
• Pinset chirurgis 2 buah.
• Gunting lurus / bengkok.
• Kapas lidi.
• Kasa penekan / kapas bulat.
• Kasa steril secukupnya.
• Mangkok kecil 2 buah.

2. Alat-alat tidak steril ( diletakkan pada baki atau kereta pembalut )
• Gunting pembalut.
• Plester.
• Botol berisi alkohol 70 % dan bethadine.
• Bensin dalam tempatnya.
• Obat-obatan desinfektan : perhydrol, savlon, PK.
• Pembalut secukupnya.
• Bengkok / kantong plastik.

Namun dari kasus di atas perawat Y dalam memakai handskon tidak memakai prinsip steril dari cara pengambilan handskon dan cara memakainya tidak dengan prinsip steril hal ini sangat membahayakan pasien itu sendiri Karen pasien bisa terkena infeksi

Selain itu beberapa pelanggaran etika yang di lkukan perawat Y antara lain:

1. Pelanggaran Hak – Hak Pasien
Walaupun pasien tersebut tidak mengetahui tindakan itu benar atau tidak tetapi pasien berhak memperoleh asuhan sesuai standar profesional tanpa memandang waktu atau apapun itu dan perawat seharusnya tetap memberikan pelayanan yang terbaik
2. Perawat lalai akan kewajibannya untuk :
a. Memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan sesuai standar profesi
b. Menghormati hak – hak pasien
c. Pada kasus diatas jelas perawat tidak menunjukkan profesionalnya. Sebagai peran pelaksana seharusnya perawat dapat bertindak sebagai pemberi rasa nyaman (comforter) dan pelindung (protector),bukan malah membahayakan pasien.
d. Pelanggaran Undang-Undang Kesehatan tahun 1992 Pasal 53 Ayat 2 yaitu
Perawat tersebut tidak mematuhi standar profesi dan menghormati hak-hak pasien.yaitu perawat Y dalam melaksanakan perawatan luka tidak memperhatikan atau mengabaikan prinsip steril hal itu melanggar standart profesi perawat.

BAB IV

PENUTUP

A.KESIMPULAN
Profesi keperawatan adalah profesi yang sangat rentan dengan tindakan kelalaian, pelanggaran etika dan moral. Untuk itu sebagai seorang perawat tidaklah cukup berbekal pada ketrampilan belaka tetapi harus perlu memahami, etika keperawatan moral, kode etik keperawatan, hak-hak pasien, tanggung jawab perawat, kewajiban perawat, nilai-nilai dan undang-undang kesehatan sehinga tercapailah apa yang kita idam-idamkan menjadi perawat professional yang didambakan semua perawat dan masyarakat sebagai pengguna jasa keperawatan

B.SARAN
Untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dan menerapkan sistim kode etik keperawatan dalam Rumah sakit memang tidak mudah itu semua tergantung dari manusianya atau perawat itu sendiri akan kesadran akan pentingnya keselamatan pasien hal ini mungkin bias kita minimalisir dengan kita mengajak teman teman perawat yang masih belum bisa menerapkan kode etik keperawatan dalam melakukan tindakan untuk melakukan tindakan sesui prosedur yang benar.Kita tidak bisa langsung secepat itu untuk menerapakan atau merubah sikap seseorang untuk melakukan tindakan keperawatan sesuai kode etik tapi yang bisa kita akan jauh lebih baik apabila kita sellu menegur dan member penjelasan kepada perawat yang tidak menerapkan kode etik.

Tinggalkan komentar