PELANGGARAN ETIKA KEPERAWATAN

BAB 1

URAIAN KASUS

Pelanggaran etika keperawatan pada saat melakukan perawatan luka Disebuah bangsal RS X di kota D tempat penulis praktik terjadi pelanggaran etika keperawatan ,kondisi pada saat itu di RS tersebut memang jumlah perawat lbih sedikit dari pasien

Kasus ini berawal ssat saya mendampingi perawat yang berinisial Y saat melakukan melakukan perawatan luka pada pasien DM perawat Y melakukan pelanggaran etika yaitu tidak memakai prisip steril pada perawatan luka.pada waktu itu perawat Y memakai handskon dengan prinsip bersih bukan prinsip steril pada saat itu handskon memang berada dalam toples dan berisi bnyak handskon pada saat itu perawat Y mengambil handskon yang seharusnya dengan korentang namun mengambil hanya dengan tangan karena korentangnya tidak ada dan juga pada saat pemakaianya hanya dengan prinsip bersih yaitu memakai handskon dengan cara biasa handskon di pakai dengan tidak memperhatika sisi yang seharusnya steril dan sisi yang seharusnya boleh di pegang, hal ini mungkin karna perawat menganggap ini hal sepele dan mungkin ini juga karna terburu buru jadi perawat tidak memperdulikan hal itu

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

KONSEP DASAR
DIABETES MELLITUS

A. PENGERTIAN
Adalah keadaan hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, syaraf dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam mikroskop elektron.

B. ETIOLOGI.
 Insulin Dependent Diabetes Mellitus ( IDDM ) atau DM Tergantung Insulin (DMTI) disebabkan oleh destruksi sel Beta pulau Langerhans akibat respon autoimun secara genetik atau karena infeksi ( biasanya oleh virus ).
 Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus ( NIDDM ) disebabkan oleh kegagalan relatif sel Beta, interaksi antara hereditas dan faktor-faktor lingkungan, seperti obesitas, diet dan gaya hidup.

C. PATOFISIOLOGI.

Destruksi sel Beta pulau Langerhans

Resistensi insulin

Defisiensi relatif insulin

Kegagalan pengambilan glukosa oleh jaringan perifer
( akibat peningkatan glikogenolisis dan glukoneogenesis )

Peningkatan kecepatan lipolisis dan ketogenesis.

Ekskresi ke ginjal dan timbul manifestasi klinis
( polidipsi, polipaghi, poliuri sebagai kompensasi )

D. MANIFESTASI KLINIK.
Polipaghi, polidipsi, poliuri, lemah dan penurunan berat badan. Gangguan lain dapat berupa kesemutan, gatal, mata kabur, impotensi pada pria, pruritus vulva pada wanita.

E. KOMPLIKASI.
1. Akut.
a. Koma hipoglikemi.
b. Ketoasidosis.
c. Koma hiperosmolar non ketotik.
2. Kronik.
a. Makrongiopati dan mikrongiopati.
b. Neuropati diabetik.
c. Rentan infeksi : TBC, ginggivitis, ISK.
d. Kaki diabetik.
Ganggren basah, merupakan akibat penutupan arteri yang mendadak terutama pada anggota bawah dimana aliran darah sebelumnya mencukupi, misalnya terjadi emboli yang akut. Daerah yang terkena berbercak-bercak dan bengkak. Kulit kerapkali menjadi melepuh dan menjadi port d’ entre, infeksi kerapkali terjadi supra infeksi, bisa terjadi melalui daerah yang baru saja mengalami epidermophyyosis. Sifat khas pada ganggren basah sebagian disebabkan oleh infeksi sehingga terdapat beberapa tingkatan infeksi kemerahan, pembengkakan dan edema yang progresif di atas daerah yang terkena pada jaringan yang nekrotik oleh karena pembentukkan gas oleh mikroorganisme meskipun bukan merupakan faktor utama. Ganggren circulatoir pada penderita diabetes, baik berbentuk basah maupun kering dapat mengalami infeksi oleh karena jaringan tersebut rentan. Pada umumnya, proses septik menjadi dominan, sehingga ganggren dan nekrose menjadi lebih luas daripada kegagalan aliran darah itu sendiri. Diabetik ganggren menjadi istilah untuk menandai bahwa infeksi memegang peranan penting dan menonjol.

F. PENATALAKSANAAN.
1. Perencanaan makan ( Meal Planning ).
 Karbohidrat : 60 – 70 %
 Lemak : 20 – 25 %
 Protein : 10 – 15 %
2. Latihan jasmani 3 – 4 kali tiap minggu selama setengah jam.
3. Obat hipoglikemik
contoh : Sulfaniturea, Biguanid, Inhibitor Alpha Glukosidase, Insulin Sensitizing Agent.

KONSEP DASAR
GANGGREN

A. DEFINISI.
Suatu daerah nekrose ( kematian jaringan sebagian yang mengenai suatu bagian badan ), misalnya jari dan tungkai.

B. ETIOLOGI.
 Kekurangan aliran darah.
 Infeksi bakteri.
 Trauma.

C. MACAM-MACAM GANGGREN.
1. Ganggren circulatoir.
Tipe ganggren :
a. Ganggren kering.
Penyumbatan arteria terjadi secara perlahan-lahan, mula-mula terlihat anemis lambat laun akan terjadi mummifikasi. Akhirnya ekstremitas akan susut, layu, berwarna hitam. Jika permukaan kulit tidak rusak, biasanya tidak akan kena infeksi. Bentuknya khas dan merupakan akibat penutupan arteria yang perlaha-lahan tetapi progresif.

b. Ganggren basah.
Merupakan akibat penutupan arteri yang mendadak terutama pada anggota bawah dimana aliran darah sebelumnya mencukupi, misalnya terjadi emboli yang akut. Daerah yang terkena berbercak-bercak dan bengkak. Kulit kerapkali menjadi melepuh dan menjadi port d’ entre, infeksi kerapkali terjadi supra infeksi, bisa terjadi melalui daerah yang baru saja mengalami epidermophyyosis.
Sifat khas pada ganggren basah sebagian disebabkan oleh infeksi sehingga terdapat beberapa tingkatan infeksi kemerahan, pembengkakan dan edema yang progresif di atas daerah yang terkena pada jaringan yang nekrotik oleh karena pembentukkan gas oleh mikroorganisme meskipun bukan merupakan faktor utama

Ganggren circulatoir pada penderita diabetes, baik berbentuk basah maupun kering dapat mengalami infeksi oleh karena jaringan tersebut rentan. Pada umumnya, proses septik menjadi dominan, sehingga ganggren dan nekrose menjadi lebih luas daripada kegagalan aliran darah itu sendiri. Diabetik ganggren menjadi istilah untuk menandai bahwa infeksi memegang peranan penting dan menonjol.

2. Ganggren traumatik.
Adalah destruksi jaringan yang disebabkan oleh kontusi langsung dengan kerusakan pembuluh darah lokal daripada trauma yang mengenai vasa utama ke ekstremitas. Pada beberapa perlukaan komplikasi berupa spasme arteri atau oklusi vena, super infeksi dapat mengakibatkankehilangan ekstremitas, tapi dapat diselamatkan bila infeksi dapat dicegah. Beberapa kasus ganggren traumatik dapat mengalami komplikasi ganggren iskemik karena terkenanya arteri yang besar sehingga diperlukan perbaikan arteri atau amputasi.

3. Ganggren bakterial.
Adalah nekrose jaringan akibat bakteri didahului oleh beberapa derajat ganggren iskemik initial yang mengakibatkan terjadinya jaringan nekrotik yang penting bagi bakteri untuk tumbuh dengan cepat.
Ada 2 bentuk berlainan dari ganggren bakterial yaitu :
a. Infeksi Clostridium Anaerob dan Ganggren.
Harus ditekankan penemuan organisme penghasil spora yang anaerob termasuk Clostridium Perfringens pada luka tidak ada.
Gambaran klasik infeksi clotridia :
 Diffuse Clostridial Myositis ( gas ganggren )
- Bentuk letal dan fulminan timbul dalam beberapa jam atau hari setelah terjadi luka. Jika debridement tidak memadai dapat timbul dalam hari ke – 10 atau ke – 13, bisa juga terjadi kerusakan arteriil yang tidak diketahui terutama jika luka dibungkus dengan plester yang ditekan kuat.
- Keadaan umum penderita mendadak berubah dan merupakan pertanda akan adanya serangan gas ganggren.
- Penderita pucat.
- Kebiru-biruan.
- Gelisah.
- Merasa sangat nyeri pada anggota yang terkena.
- Temperatur naik ( sub normal).
- Pada stadium permulaan nadi dan TD tidak mencerminkan beratnya penyakit tetapi kemudian terjadi takikardi dan hipertensi, kolaps, sianosis dan dingin pada ekstremitas. Muka asianotik atau menjadi coklat, pucat karena hemolisa yang hebat.
- Perubahan pada ekstremitas yang bersangkutan adalah khas, sangat bengkak, edema, berubah warna, mula-mula berwarna biru atau berbercak kemerahan, pucat seperti kadaver, bau seperti bau kamar mayat.
- Sering merembes sedikit discharge, serosanguineus yang cair, krepitasi jaringan meluas keseluruh anggota badan dan merupakan suatu tanda klasik adanya gas dalam jaringan.
- Kerusakan otot yang luas dan kerusakan pembuluh darah besar, sifat luka mengenai penyediaan darah yang bersangkutan, toxaemia beratt, pembengkakan yang luas ditungkai dan perkembangan cepat penyakit tersebut.

 Edematus Ganggren
Disebabkan oleh clostridium novyi, tidak dihasilkan gas tetapi terjadi odem otot yang masif tanpa kerusakan vaskular primer. Perjalanan penyakit fulminans dan terapi yang efektif yaitu debridement yang awal dan luas.

 Localized Clostridium Myositis
Luka yang pertama biasanya terbatas, kerusakan otot ringan dan terjadi hanya pada sebagian kecil otot dan tidak terjadi kerusakan pada arteri besar. Didapatkan discharge serosanguinis cair pada luka. Pada tepi luka terdapat edema, nyeri tekan, warna kemerahan, pada palpasi sering adanya krepitasi yang luas sedikit jauh dari luka, kadang-kadang demam tinggi dan takikardi, penyediaan darah ke ekstremitas tetap utuh. Daerah tungkai disebelah distal injeksi tetap hangat dan pulsus perifer tetap normal. Keadaan ini dapat ditolong dengan eksisi terhadap berkas-berkas otot yang terkena infeksi dan nekrose.

 Clostridial Cellulitis
Suatu infeksi anaerob dijaringan subkutan yang terus mengadakan perluasan. Pada kasus yang lanjut terjadi edematus, bengkak dan pucat, warna kulit berubah, nekrotik, krepitasi terdapat diseluruh ektremitas.
Clostridium Cellulitis merupakan suatu proses yang berkembang agak lambat, tampak 10 hari atau lebih setelah terjadi luka. Luka pertama tidak disertai perlukaan muskulus yang luas. Luka biasanya dipermukaan dan tidak ada kerusakan pembuluh darah besar.
Pada pemeriksaan menunjukkan adanya sirkulasi yang sempurna pada ekstremitas. Penyembuhan akan segera terjadi setelah dilakukan drainase dan eksisi jaringan nekrotik
Hiperbarik terapi adalah baik untuk semua infeksi anaerob tetapi tidak dapat untuk menggantikan debridement yang awal dan luas terhadap jaringan yang terkena. O2 dapat menghambat pembentukkan lecithinase oleh clostridia tetapi tidak berefek terhadap toksin, dapat pula menghambat bakteriaemi tapi juga tidak berefek terhadap organisme dalam otot yang nekrose dan abses. Penicillin dosis tinggi untuk menghambat pertumbuhan organisme lain.

b. Infeksi Streptococcus dan Ganggren.
Dikenal dengan istilah necrotizing erysipelas. Dengan adanya antibiotoka. Lesi ini jarang diketemukan lagi. Lesi ini dapat berhubungan dengan infeksi streptococcus yang sekunder terhadap ulcerasi lokal akibat epidermophytosis. Gambaran pokok adalah cellulitas yang menyebar dilapisan fasela dan bukan pada kulit sendiri. Dapat disertai dengan kelemahan umum yang hebat. Kulit pada ekstremitas terkena menunjukkan warna suram dan akhirnya bergelembung-gelembung dan terjadi nekrose.

c. Mycetoma ( Madura Foot )
Adalah lesi karena jamur yang jarang ini supaya dipertimbangkan kemungkinannya apabila didapati suatu lesi yang destruktif dengan perkembangan yang lambat dan tidak nyeri. Terjadi sesudah adanya trauma ringan, seperti menginjak duri. Mycetoma disebabkan oleh fungus spesifik, madurella mycetomi, dan disebabkan oleh fungus lain seperti jenis actinomyces.
Lesi ini dimulai sebagai pembengkakan tanpa rasa nyeri dengan daerah undurasi lebih dalam dibawahnya. Perjalanan penyakitnya tidak dapat dihentikan. Kemudian terjadi destruksi yang progresif pada jaringan lunak dan tulang, pembengkakan setempat dan tampak ulserasi kecil dan sinus-sinus., oleh karena rasa nyeri yang minimal, maka penderita biasanya tetap mampu berdiri meskipun telah terjadi destruksi kaki sebagian ataupun total.
Penyembuhan penyakit ini cukup dengan tindakan excici, karena sifat perkembangan penyakit itu hanya setempat.

Untuk mencegah terjadinya perluasan luka ( ganggren ) maka perlu dilakukan perawatan luka dan tindakan asepsis.
Aturan dalam perawatan luka :
a. Menghindari terjadinya pencemaran.
b. Mengusahakan balutan tetap kering.
c. Proses perkembangan aliran darah lokal.
d. Mengembangkan kondisi yang baik.
e. Selalu berusaha agar luka bersih.
f. Penyokong yang baik untuk luka.
g. Menghindari kondisi luka yang makin memburuk.
h. Menghindari rasa sakit yang tidak perlu.

PROTAP PERAWATAN LUKA

 Pengertian.
Merawat luka terinfeksi :
a. Luka + serum.
b. Luka + pus.
c. Luka + pus + nekrose.

 Tujuan.
a. Mempercepat penyembuhan.
b. Mencegah gangguan rasa nyaman bagi yang bersangkutan maupun bagi pasien lain terutama bila luka nekrose dan berbau.

 Perincian Tugas.
a. Menyiapkan alat-alat ;
1. Alat-alat steril ( dalam tempat steril ).
• Pinset anatomis 1 buah.
• Pinset chirurgis 2 buah.
• Gunting lurus / bengkok.
• Kapas lidi.
• Kasa penekan / kapas bulat.
• Kasa steril secukupnya.
• Mangkok kecil 2 buah.

2. Alat-alat tidak steril ( diletakkan pada baki atau kereta pembalut )
• Gunting pembalut.
• Plester.
• Botol berisi alkohol 70 % dan bethadine.
• Bensin dalam tempatnya.
• Obat-obatan desinfektan : perhydrol, savlon, PK.
• Pembalut secukupnya.
• Bengkok / kantong plastik.

b. Menyiapkan pasien.
 Memperkenalkan diri.
 Menjelaskan tujuan dilakukannya prosedur.
 Menjelaskan langkah perasat.
 Meminta persetujuan pasien.
 Menyiapkan pasien sesuai kebutuhan.

c. Pelaksanaan.
1. menempatkan alat-alat kedekat pasien.
2. mencuci tangan sebelumdan sesudah melakukan perasat.
3. alat-alat disiapkan sesuai kebutuhan.
4. pembalut dibuka dengan pinset dan dubuang pada tempatnya.
5. bekas plester dibersihkan dengan yodi bensin.
6. luka dicuci / dibersihkan dengan kapas desinfektan sesuai advis dokter ( perhydrol, savlon, PK ) sampai bersih, bila perlu dilakukan juga nekrotomi, kemudian bilas dengan bwc/pz.
7. kompres luka dengan bwc / bethadine sesuai advis dokter, kemudian tutup dengan kasa steril lalu dibalut / diplester rapi.
8. pasien dirapikan.
9. alat-alat dibereskan.
10. mengamati respon pasien baik verbal maupun non verbal.

d. Mencatat perkembangan keadaan luka.

I. Tanggung jawab perawat

A. Tanggung jawab perawat terhadap klien
1. Perawat dalam melaksanakan pengabdiannya, senantiasa berpedoman pada tanggung jawab yang bersumber dari adanya kebutuhan terhadap perawatan individu, keluarga dan masyarakat
2. Perawat dalam melaksanakan pengabdian di bidang keperawatan, memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai – nilai budaya adat istiadat dah kelangsungan hidup beragama dari individu, keluarga dan masyarakat
3. Perawat dalam melaksanakan kewajibanya tehadap individu keluarga dan masyarakat senantiasa dilandasi rasa tulus ikhlas sesuai dengan martabat dan tradisi luhur keperawatan
4. Perawat menjalin hubungan kerja sama dengan individu, keluarga dan masyarakat khususnya dalam mengambil prakarsa dan mengadakan upaya kesehatan serta apaya kesejahteraan pada umumnya sebagai bagian dari tugas dan kewajiban bagi kepentingan masyarakat

B. Tanggung jawab perawat terhadap tugas
1. Perawat memelihara mutu pelayanan keperawatn yang tinggi disertai profesional dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan keperawatn sesuai dengan kebutuhan individu, kelurga dan masyarakat
2. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya sehunbunagn dengan tugas yang dipercayakan kepadanya, kecuali jika diperlukan oleh pihak yang berwenana sesuai dengan ketentuan hukum yang belaku
3. Perawat tidak akan menggunakan pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang dimiliki untuk tujuan yang bertentangan dengan norma – norma kemanusiaan
4. Perawat dalam menunaikan tugasnya dan kewajibanya senantiasa berusaha dengan penuh kesadaran agar tidak terpengaruh oleh pertimbangan, kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, agama yang dianut, dan kedudukan sosial
5. Perawat mengutamakn perlindungan dan keselamatan pasien (klien) dalam melaksanakn tugas keperawatan, serta matang dalam mempertimbangkan kemampuan jika menerima atau mengalih tugaskan tanggung jawab yang ada hubungannya dengan keperawatan

II. Hak – hak Pasien
Menurut Nation League For Nursing (1997) hak – hak pasien adalah
1. Hak memperoleh asuhan sesuai standar profesional tanpa memandang tatanan kesehatan yang ada
2. Hak untuk diperlakukan secara sopan santun, serta keramahan dari perawat yang bertugas tanpa membedakan ras, warna kulit, derajat di masyarakat , jenis kelamin kebangsaan dan sebagainya
3. Hak memperoleh informasi tentana diagnosis penyakitnya, prognosis pengobatan termasuk alternative pengibatan dan resiko yang mungkin terjadi agar pasien dan keluarga memberikan persetujuan medis yang akan dilakukan terhadapnya
4. Hak legal untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan tentang asuhan keperawatanyang akan diberikan kepadanya
5. Hak menolak obsevasi dari tim kesehatan yang tidak langsung terlibat dalam asuhan kesehatannya
6. Hak mendapat privasi selama wawancara, pemeriksaan kesehatan, dan pengobatan
7. Hak mendapat privasi untuk berkomunikasi dan menerima kunjungan dari orang – orang yang disetujuinya
8. Hak menolak pengobatan untuk pcatisipasi dalam penelitian dan eksperimen yang dilakukan tanpa jaminan hukum bila terjadi dampak yang merugikan
9. Hak menerima pendidikan / intruksi yang tepat dari petugas kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan tentang kebutuhan kesehatan dasar secara optimal
10. Hak terhadap koordinasi dan asuhan kesehatan yang berkelanjutan
11. Hak kerahasiaan terhadap dokumen serta hasil komunukasi baik secara lisan maupun tulisan yang diberikan kepada petugas kesehatan kecuali untuk kepentingan hukum

III. Kewajiban Perawat
a. Kewajiban Perawat
1. Perawat wajib mematuhi institusi yang bersangkutan
2. Perawat berhak memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan sesuai standar profesi dan batas – batas kegunaanya
3. Perawat wajib menghormati hak – hak pasien
4. Perawat wajib merujuk pasien kepada perawat atau tenaga kesehatan lain yang mempunyai keahlian dan kemampuan yang lebih baik bila yang bersangkutan tidak dapat mengatasi sediri
5. Perawat wajib memberi kesempatan pada klien / pasien untuk berhubungan dengan keluarganya sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan dan standar profesi yang ada
6. Perawat wajib memberikan kesempatan kepada pasien untuk menjalankan ibadahnya sesuai agam dan kepercayaanya
7. Perawat wajib berkolaborasi dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan terkait lainnya dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap pasie4n
8. Perawat wajib memberikan informasi yang akurat tentang tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien sesuai batas kemampuannya
9. Perawat wajib membuat dokumentasi keperawatan secara akurat dan berkesinambungan
10. Perawat wajib meningkatkan mutu pelayanan keperawatan
11. Perawat wajib membuat dokumentasi asuhan keperawatan sesuai standar profesi keperawatan demi kepuasan pasien
12. Perawat wajib mengikuti perkembangan IPTEK keperawatan atau kesehatan secara terus menerus
13. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang klien, kecuali diminta keterangan oleh pihak berwenang
14. Perawat wajib memenuhi hal – hal yang telah disepakati atau perjanjian yang telah dibuat sebelumnya terhadap institusi tempat kerja

IV. Hubungan Perawat dengan Pasien
Dasar hubungan perawat dengan klien adalah hubungan yang saling menguntungkan. Hubungan yang baik antara perawat dan pasien akan terjadi apabila
1. Terdapat saling percaya antara pasien dengan pasien
2. Perawat benar – benar memahami tentang hak – hak pasien dan harus melindungi hak tersebut , salah satunya adalah hak untuk menjaga privasi klien
3. Perawat harus sensitif terhadap perubahan – perubahan yang terjadi pada pribadi pasien yang disebabkan oleh penyakit yang dideritanya
4. Perawat harus memahami keberadaan pasien atau klien sehingga dapat bersikap sabar dan tetap memperhatikan timbangan etis dan moral
5. Dapat bertanggung jawab dan bertanggunga gugat atas segala resiko yang mungkin timbul selama pasien dalam perawatannya
6. Perawat sedapat mungkin untuk menghindari konflik antara nilai – nilai pribadinya dengan nilai – nilai pribadi pasien dengan cara membina hubungan yang baik antara pasien, keluarga dan teman sejawat serta dokter untuk kepentingan pasiennya

VI. Peran Peawat
Profesi perawat professional berartitampilan secara utuh dalam melakukan aktifitas keperawatan berdasarkan ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap professional yang sesuai kode etik keperawatan
1. Peran sebagai pelaksana, perawat bertindak sebagai
a. Pemberi rasa nyaman (comforter) yang berusaha untuk memberi keterangan dan kenyamanan kepada pasien
b. perlindungan (proteclor) san pembela (ascokad) yang berusaha untuk melindungi san membela kepentingan pasiwn agar dapat menggunakan hak – haknya seoptimal mungkin
c. komunikator yang berperan dalam memberi penjelasan dengan berkomunikasi kepada pasien dalam upaya meningkatkan kesehatannya
d. mediator yang memberi kemudahan kepada pasien untuk mengatakan keluhannya kepada tim kesehatan dan kepada keluarganya agar dapat membantu kelancaran pelaksanaan asuhan keperawatannya
e. Rehabilitator yang bertugas mengembalikan kepercayaan terhadap dirinya, baik semasa dirawat di rumah sakit atau setelah pulang ke rumah dan dapat diterima dengan baik oleh keluarga dan masyarakat dimana ia tinggal
2. Peran sebagai pendidik dan penyuluh
Yaitu memberi penyuluhan kepada pasien, keluarga dan masyarakat yang ada di lingkup tanggung jawabnya tentang kesehatan dan keperawatan yang dibutuhkannya

3. Peran sebagai pengelola
Yaitu dapat mengelola asuhan keperawatan dalam ruang lingkup tanggung jawabnya termasuk membuat catatan dan laporan pasien

Nilai dan sikap yang sangat diperlukan oleh perawat
a. Nilai yang sangat diperlukan oleh perawat
1. Kejujuran
2. Lemah lembut
3. Ketepatan setiap tindakan
4. Menghargai oaring lain
b. Sikap seorang perawat
1. Memberi contoh , teladan atau model peran
2. Membujuk atau menyakinkan
3. Mangajarkan melalui budaya
4. Pilihan terbatas
5. Menetapkan melalui peraturan peraturan
6. Mempertimbangkan dengan hati nurani

Undang – Undang Republik Indonesia Nomoa 23 tahun 1992 tantang Kesehatan pasal 53
1. Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya
2. Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien
3. Tenaga kesehatan, untuk kepentingan pembuktian dapat melakukan tindakan medis rehadap seseorang sengat memperhatikan kesehatan dan keselamatan yang bersangkutan
4. Ketentuan mengenali standar profesi dan hak – hak pasien sebagai mana dimaksud dalam ayat 2 ditetapkan dengan peraturan pemerintah

BABIII
PEMBAHASAN
Dalam bab ini saya akan membahas tentang pelanggaran etika apa yang dilakukan perawat Y pada saat perawatan luka DM.
Penyakit DM Adalah keadaan hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, syaraf dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam mikroskop electron. Perawatan luka pada penyakit DM ini harus dilakukan dengan tehnik steril.seperti memakai sarung tangan harus memakai sarung tangan yang steril karena untuk mencegah terjadinya infeksi.adapiun alat alat yang harus steril antara lain;
1. Alat-alat steril ( dalam tempat steril ).
• Pinset anatomis 1 buah.
• Pinset chirurgis 2 buah.
• Gunting lurus / bengkok.
• Kapas lidi.
• Kasa penekan / kapas bulat.
• Kasa steril secukupnya.
• Mangkok kecil 2 buah.

2. Alat-alat tidak steril ( diletakkan pada baki atau kereta pembalut )
• Gunting pembalut.
• Plester.
• Botol berisi alkohol 70 % dan bethadine.
• Bensin dalam tempatnya.
• Obat-obatan desinfektan : perhydrol, savlon, PK.
• Pembalut secukupnya.
• Bengkok / kantong plastik.

Namun dari kasus di atas perawat Y dalam memakai handskon tidak memakai prinsip steril dari cara pengambilan handskon dan cara memakainya tidak dengan prinsip steril hal ini sangat membahayakan pasien itu sendiri Karen pasien bisa terkena infeksi

Selain itu beberapa pelanggaran etika yang di lkukan perawat Y antara lain:

1. Pelanggaran Hak – Hak Pasien
Walaupun pasien tersebut tidak mengetahui tindakan itu benar atau tidak tetapi pasien berhak memperoleh asuhan sesuai standar profesional tanpa memandang waktu atau apapun itu dan perawat seharusnya tetap memberikan pelayanan yang terbaik
2. Perawat lalai akan kewajibannya untuk :
a. Memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan sesuai standar profesi
b. Menghormati hak – hak pasien
c. Pada kasus diatas jelas perawat tidak menunjukkan profesionalnya. Sebagai peran pelaksana seharusnya perawat dapat bertindak sebagai pemberi rasa nyaman (comforter) dan pelindung (protector),bukan malah membahayakan pasien.
d. Pelanggaran Undang-Undang Kesehatan tahun 1992 Pasal 53 Ayat 2 yaitu
Perawat tersebut tidak mematuhi standar profesi dan menghormati hak-hak pasien.yaitu perawat Y dalam melaksanakan perawatan luka tidak memperhatikan atau mengabaikan prinsip steril hal itu melanggar standart profesi perawat.

BAB IV

PENUTUP

A.KESIMPULAN
Profesi keperawatan adalah profesi yang sangat rentan dengan tindakan kelalaian, pelanggaran etika dan moral. Untuk itu sebagai seorang perawat tidaklah cukup berbekal pada ketrampilan belaka tetapi harus perlu memahami, etika keperawatan moral, kode etik keperawatan, hak-hak pasien, tanggung jawab perawat, kewajiban perawat, nilai-nilai dan undang-undang kesehatan sehinga tercapailah apa yang kita idam-idamkan menjadi perawat professional yang didambakan semua perawat dan masyarakat sebagai pengguna jasa keperawatan

B.SARAN
Untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dan menerapkan sistim kode etik keperawatan dalam Rumah sakit memang tidak mudah itu semua tergantung dari manusianya atau perawat itu sendiri akan kesadran akan pentingnya keselamatan pasien hal ini mungkin bias kita minimalisir dengan kita mengajak teman teman perawat yang masih belum bisa menerapkan kode etik keperawatan dalam melakukan tindakan untuk melakukan tindakan sesui prosedur yang benar.Kita tidak bisa langsung secepat itu untuk menerapakan atau merubah sikap seseorang untuk melakukan tindakan keperawatan sesuai kode etik tapi yang bisa kita akan jauh lebih baik apabila kita sellu menegur dan member penjelasan kepada perawat yang tidak menerapkan kode etik.

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 498 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: